Catatan Kang Jalal
Visi Media, Politik & Pendidikan

Doa Ibu buat Anak-anak Negeri Ini

Ya Ghaffar, ya Rahim
Kauletakkan di rahim kami anak-anak negeri ini
Kau amanatkan diri-diri mereka pada lindungan kasih-sayang kami
Kau percayakan jiwa-jiwa mereka pada bimbingan ruhani kami
Kau hangatkan tubuh-tubuh mereka dengan dekapan cinta kami
Kau besarkan badan-badan mereka dengan aliran air susu kami

Tuhan kami, kami telah sia-siakan kepercayaan-Mu
kesibukan telah menyebabkan kami melupakan amanat-Mu
hawa nafsu telah menyeret kami untuk menelantarkan buah hati kami
tidak sempat kami gerakkan bibir-bibir mereka untuk berdzikir kepada-Mu
tidak sempat kami tuntun mereka untuk membesarkan asma-Mu
tidak sempat kami tanamkan dalam hati mereka kecintaan kepada Nabi-Mu

Dosa-dosa kami telah membuat kami
menjadi pemberang, pembangkang, dan
penentang-Mu
Dosa-dosa kami telah membuat hati mereka
keras, kasar, kejam, dan tidak tahu berterima-kasih
Sebelum Engkau ampuni mereka, Ya Allah
ampunilah lebih dahulu dosa-dosa kami

Ya Allah, berilah kami peluang untuk mendekap
tubuh mereka dengan dekapan kasih sayang kami
berilah kami waktu untuk melantunkan pada
telinga mereka ayat-ayat Al-Qur'an dan sunnah Nabi-Mu

Berilah kami kesempatan untuk sering
menghadap-Mu dan memohon kepada-Mu sesuai shalat kami
untuk keselamatan, kesejahteraan, dan
kebahagiaan anak-anak kami
Bangunkan kami di tengah malam untuk merintih kepada-Mu
mengadukan derita dan petaka yang menimpa anak-anak negeri ini
Izinkan kami membasahi tempat sujud kami
dengan air mata penyesalan akan kelalaian kami

Ya Allah, ya Jabbar, ya Ghaffar
Anugerahkan kepada para pemimpin kami kearifan
untuk mendidik anak-anak negeri ini dalam kesalehan
Berikan kepada mereka petunjuk-Mu
sehingga mereka menjadi suri tauladan bagi kami
dan anak-anak kami
Limpahkan kepada mereka perlindungan-Mu
supaya mereka melindungi kami dengan keadilan-Mu
Jauhkan mereka dari kezaliman
sehingga kami dapat mengabdi-Mu dengan tentram dan aman

Jalaluddin Rakhmat


Belia Kufah Pembawa Pesan Ukhuwah

Lebih dari seribu tahun yang lalu
di perbatasan Basrah
berhenti sebuah kafilah
pasukan para sahabat Nabi yang mulia

Kuda-kuda ditambatkan
pejalan-pejalan kaki diistirahatkan
tapi, lihat apa yang dilakukan sang Komandan

Ia turun dari kudanya
berdiri menghadap Ka'bah
yang berada di seberang sahara
Ia mengangkat tangannya berkali-kali
Allahu Akbar Allahu Akbar
duduk dan berdiri, rukuk dan sujud

Ia rebahkan pipinya
air mata mengalir membasahi pasir yang kering
dalam desah nafas dan isakan kepedihan

"Ya Allah
Pemelihara langit dan yang dinaunginya
pemelihara bumi dan yang ditumbuhkannya
Pemilik Arasy yang Agung

Inilah Basrah
Kumohon kebaikan kota ini
Lindungi aku dari kejelekannya
Masukkan aku ke tempat yang baik
Bukankah Engkau sebaik-baiknya yang menempatkan orang

Ya Allah
Mereka berontak kepadaku
Mereka tentang aku
Mereka putuskan bai'at kepadaku

Ya Allah
Peliharalah darah kaum Muslimin
."

Ali bin Abi Thalib
bukan komandan baru pasukan mukminin
di Badar, Uhud, Khaibar dan lain-lain
Ia tak pernah ragu dalam menyerbu
Ia tak pernah mundur
Karrar ghair farrar

Di setiap pertempuran
tubuhnya penuh luka sayatan pedang
Ia tidak pernah menangis
Ia tegar kekar sebagai Haidar Sang Singa

Tapi kini ia menangis
ia dipandang Basrah
seakan melihat Kota Musibah
ia gumamkan kata-kata duka

"Tuhan, peliharalah darah kaum muslimin."

Pasukan pembangkang datang
dengan gemerincing tombak dan pedang
Ali berdiri mematung
pedangnya bergantung
Ia tidak segera menyambut musuh
Ali yang tegar kini ragu dan lesu

"Temui mereka
ajak bersatu kembali
hindari pertumpahan darah
,"
katanya kepada Abdullah bin Abbas

Ke tengah-tengah musuh yang meradang
Ali meneriakkan pesan perdamaian
Ia mengangkat Al-Qur'an
memandangi pengikutnya
dan air mata itu masih menggelegak di pelupuk matanya

"Adakah di antara kalian
yang mau membawa mushaf ini ke tengah-tengah mereka
Sampaikan pesan perdamaian
atas nama Al-Qur'an
Jika pedang memotong tangannya yang satu
peganglah Al-Qur'an dengan tangan yang lain
Jika tangan itupun terpotong
gigit Al-Qur'an dengan gigi-giginya sampai ia terbunuh
Sampaikan pesan perdamaian
atas nama Al-Qur'an
"

Seorang pemuda Kufah bangkit
menawarkan dirinya
dengan kepolosan remaja belia
Ali yang tegar kini ragu dan lesu
ia mencari yang lebih tua
tidak ada

Ia serahkan Al-Qur'an
ke tangan yang lembut dan indah
"Bawalah Al-Qur'an ini ke tengah-tengah mereka
Sampaikan pesan perdamaian
atas nama Al-Qur'an
Katakan jangan tumpahkan darah kami
dan darah kalian.
"

Ia melejit ke depan musuh
mengangkat Al-Qur'an dengan kedua tangannya
"Atas nama Al-Qur'an pelihara darah kami dan darah kalian."

Di depan pasukan demi pasukan
ia mengangkat Al-Qur'an
"Atas nama Al-Qur'an pelihara darah kami dan darah kalian."

Pedang menebas tangan kanannya
ia angkat Al-Qur'an dengan tangan kirinya
"Atas nama Al-Qur'an pelihara darah kami dan darah kalian."

Pedang menebas tangan kirinya
ia ambil Al-Qur'an dengan gigi-giginya
Matanya yang jernih
masih menyorotkan pesan perdamaian
atas nama Al-Qur'an
Dagunya diangkat ke atas
dan darah menyiram seluruh tubuhnya

Pedang menebas lehernya
darah membasahi tubuhnya, Al-Qur'an
dan tanah di bawahnya

Pejuang perdamaian dan ukhuwah
terbujur bersimbah darah
Ali menggumamkan doa pilu di sampingnya
"Ah, sampai juga saatnya kita harus berperang"

Sejak itu, abad demi abad
kaum muslimin dicabik-cabik perpecahan
tak jarang darah dengan sia-sia ditumpahkan

Lebih dari seratus abad sesudah itu
Muthahhari menyerukan pesan perdamaian
di malam yang bisu dan gelap
ia dibantai
seperti pemuda Kufah
ia jatuh bersimbah darah

Dengan mengambil nama Muthahhari
sebuah Yayasan didirikan
untuk mendidik pemuda-pemuda Kufah modern
yang akan serukan pesan perdamaian
dengan Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan

Izinkan saya bertanya
Di manakah Anda berdiri
Apakah Anda duduk di situ
sebagai pembantai berdarah dingin
Potonglah tangan-tangan kami
tebas leher-leher kami
demi Allah, sampai teriakan yang terakhir
akan kami serukan pesan perdamaian
walaupun dengan darah yang sudah kering

Ataukah Anda berdiri di sini
seperti Ali Amirul Mukminin
serahkan Al-Qur'an ke tangan-tangan kami
bantu topang dan perkokoh kami
doakan kami dengan air matamu
ketika tubuh-tubuh kami dikoyak-koyakkan
oleh saudara-saudara kami
yang berbeda paham dengan kami

20 Januari 1995
Jalaluddin Rakhmat