Catatan Kang Jalal
Visi Media, Politik & Pendidikan

Media Massa

Dalam media massa dunia berganti nama
manusia menjadi berhala
derita menjadi berita
aurat menjadi kesenian
maksiat menjadi klangenan
hiburan menjadi kebijakan
fitnah menjadi penerangan

Lewat jendela kaca yang kecil
tangis bayi terdengar nyaring
asalkan ia menggeliat
di bumi sebelah barat
Senyum putri terlihat jelas
asalkan ia bergaya keren dan kece
lewat kamera CNN atau BBC

Tidak pernah ada agama
dengan ummat yang lebih fanatik
dari pengikut media massa

Tidak pernah ada khotbah
yang didengar lebih khusyuk
dari acara media massa

Tidak pernah ada ciptaan manusia
yang dipuji dan dicerca
yang diserang dan dibela
seperti media massa

Jakarta, 18 September 1997
Jalaluddin Rakhmat


Al-Qur'an yang Berjalan

Musa mendekati cahaya di puncak Sinai
Ia rebah gemetar di depan api unggun
Ia melemparkan tongkat dan Tuhan mengubahnya
menjadi ular
Ia menjulurkan tangannya dan Tuhan
menjadikannya putih bersih

Dengan tangan yang bersih
ia menghentakkan tongkatnya di depan Fir'aun
mengubah tukang sihir menjadi pecinta Tuhan
membelah laut untuk membebaskan kaum tertindas
dan menenggelamkan para tiran ke dasar lautan

Muhammad naik ke puncak bukit Nur
Jibril datang membawa perintah Tuhan
Muhammad rebah gemetar tenggelam dalam
lautan cahaya
Alam semesta bersaksi bahwa dia utusan Tuhan

Suaranya bergema di bukit-bukit dan lembah Makkah
Tahukah kamu orang yang mendustakan agama
Dialah itu yang mengabaikan anak yatim
Dan tidak berupaya memberi makan orang miskin
Suaranya, tubuhnya, dan jiwanya menjadi Al-Qur'an

Al-Qur'an yang berjalan ini mengubah
para perompak menjadi penegak kebenaran
budak-budak rendah menjadi pahlawan keadilan
ia mengganti kepongahan dengan kerendahan hati
rasa rendah diri dengan keluhuran budi

Maka gembala-gembala unta di sahara bangkit
menaklukkan dunia
para tiran berjatuhan, penindas terhempas,
dan suara rakyat menjadi suara Tuhan

Apakah tangan para pejuang Muslim masih putih bersih
sehingga berhak menggenggam tongkat Musa?
Adakah penerus Al-Qur'an yang berjalan
sehingga mampu menjatuhkan tiran dengan suara Tuhan?

Jalaluddin Rakhmat


Doa Hari Selasa

Aku berlindung pada Allah
dari kejahatan diriku
sungguh nafsu menyuruh buruk
kecuali yang disayangi Tuhanku

Aku berlindung pada Allah
dari kejahatan setan yang menambah dosa-dosaku

Aku berlindung pada Allah
dari semua tiran yang durhaka
dari semua penguasa yang kejam
dari semua musuh yang dominan

Ya Allah
Jadikan aku di antara pasukan-Mu
karena pasukan-Mu saja yang beroleh kemenangan
Jadikan aku di antara kekasih-kekasih-Mu
karena kekasih-Mu saja yang tidak mendapat
kecemasan dan kesedihan

Ya Allah
Baikkan agamaku, karena itulah sandaran urusanku
Baikkan akhiratku, karena itulah kampung
kembaliku tempat lari menjauhi kejahatanku
Jadikan kehidupan tempat menambah kebaikan
Jadikan kematian tempat istirahat dari kejelekan

Ya Allah
Limpahkan sejahtera pada Muhammad penutup
dan penyempurna para utusan
kepada keluarganya yang baik dan suci
kepada para sahabatnya yang pilihan

(Dikutip dari buku Rintihan Suci Ahli Bait Nabi, Jalaluddin Rakhmat, Rosda 1988)


(Cuma) Puisi buat Marsinah

Tubuh ringkih nenek tua itu
Terkapar di atas pasir yang membakar
Ujung tombak menempel di atas rahimnya
Siap merobek serabut, kulit, dan otot-ototnya
"Sampaikan salamku kepada Rasul Allah
Katakan kepadanya, Sumayyah yang hatinya telah disucikan Allah
tidak akan mencemari mulutnya dengan kata-kata kotor
"
Darah segar membersit, entah berapa liter
Ketika tombak itu menyeruduk dalam-dalam
Sumayyah syahid pertama
karena terlalu vokal
"Sabarlah hai keluarga Yasir,
Surga telah dijanjikan bagi kalian
"
Suara langit lewat bibir Nabi yang suci

Dari Daihatsu tubuh gadis belia itu
Dilemparkan di gubuk di hutan pohon jati
Terkapar tanpa gerak tanpa suara
Telah tiga hari ia dijadikan sebongkah daging
Buat dikerat dan disobek-sobekkan
Telah tiga hari ia hanya seonggok tulang
Buat diremuk dan dipatah-patahkan
Kini Marsinah membisu
mengakhiri perjuangan yang buntu
Tubuhnya tergeletak kalah

Zombi di sampingnya menusukkan pentungan jauh ke dalam rahimnya
merobekkan kulit, serabut, dan otot-ototnya
Darah segar membersit, lebih dari dua liter
Marsinah syahid ke sekian
karena terlalu vokal

Tak kudengar suara bumi
dari bibir menteri yang berkuasa
Dari bibir demonstran yang perkasa
Dari bibir cendekiawan yang bijaksana
Dari bibir ulama yang waskita
Bahkan dari bibir sejuta rekan yang sama menderita

Tujuh bulan kemudian
Jenazah Marsinah digali
Di atas tanah kuburan yang basah
tubuh Marsinah terbaring pasrah
Masih utuh
dengan sesungging senyum indah
Wewangian surgawi terbersit dari tanah-tanah galian
Membawa suara langit dari bibir Nabi yang suci
"Sabarlah, hai keluarga Marsinah
Surga telah dijanjikan untuk kalian
."

12 November 1993
Jalaluddin Rakhmat