| Bukan lagi sesuatu yang mengherankan jika melihat seorang yang mengaku
Muslim tapi perilakunya jauh dari nilai-nilai Islam. Mengaku diri Muslim
tapi shalatnya masih belang-belong alias dilalaikan. Mengaku diri
Muslim tapi masih suka mencuri, berjudi, berzina, dan segala macam perbuatan
maksiat lainnya. Kadang ada yang shalatnya rajin tapi masih suka makan
riba dan tidak mau menunaikan zakatnya, padahal salah satu fungsi sosial
dari shalat adalah mencegah perbuatan keji dan munkar.
Seharusnya menjadi sesuatu yang mengherankan jika seseorang yang beragama Islam tapi kehidupannya jauh dari nilai-nilai Islam. Namun, karena terlalu seringnya kita menyaksikan realitas yang demikian di zaman sekarang ini, akhirnya menjadi sesuatu yang lumrah jika melihat komunitas 'Muslim' yang kehidupannya dipenuhi nilai-nilai Jahili. Menjadi sesuatu yang lumrah jika seorang wanita yang menyatakan dirinya Islam tapi tanpa malu-malu memamerkan aurat tubuhnya di depan umum. Dan sungguh agak sulit di zaman ini untuk menemukan pribadi-pribadi yang keseharian hidupnya dipenuhi nilai-nilai kebenaran al-Islam. Al-Islam adalah ad-Dien (sistem kehidupan) yang diturunkan Allah kepada
ummat manusia melalui Rasul-Nya agar manusia selamat dan bahagia di dunia
dan akhirat. Sebagai sistem nilai dalam kehidupan, Islam harus dilaksanakan
secara kaffah (menyeluruh) sebagaimana firman Allah dalam al-Qur'an:
Tidak dibenarkan melaksanakan Islam secara parsial. Sebagian dilaksanakan sebagian ditinggalkan. Ritualnya berdasarkan Islam tapi mu'amalahnya menggunakan sistem non-Islam. Sembahyangnya sembahyang Islam tapi ekonominya ekonomi kapitalis (ribawi). Di masjid menjadi seorang Muslim, di panggung politik menjadi seorang sosialis. Semua itu tidak dibenarkan! Setelah seseorang menyatakan dirinya sebagai Muslim dengan mengakui dan mengikrarkan dua kalimat syahadat "asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah" maka, wajib baginya untuk mewujudkan nilai yang terkandung dalam dua kalimat syahadat tersebut dalam seluruh sektor kehidupannya, ini konsekuensi logis dari sebuah ikrar. Seorang Muslim adalah orang yang berserah diri kepada Allah swt. Kepasrahan
dan ketundukannya kepada Allah merupakan perwujudan dari keimanannya kepada
Allah dan keyakinannya akan kebenaran kalimat tauhid laa ilaaha illallah,
bahwa tiada yang disembah selain Allah, tiada yang ditakuti selain Allah,
tiada yang diagungkan selain Allah, tiada yang dituju dalam hidupnya selain
Allah.
Mu'min sejati adalah mereka yang totalitas dan beriman dan berislam,
yaitu yang tunduk pada hukum Allah, yang menjadikan al-Qur'an dan as-Sunnah
sebagai referensi perjalanan hidupnya dan siap mengorbankan harta dan jiwanya
demi tegaknya dienul Islam. Mereka menyadari bahwa dirinya bukan milik
siapa-siapa melainkan milik Allah Rabbul 'aalamiin.
Seorang Mu'min adalah orang yang telah melakukan transaksi jual beli dengan Allah, dengan syahadat sebagai ijab kabulnya. Seorang Mu'min menjual harta dan dirinya dan Allah membelinya dengan syurga. Orang yang telah menyadari hakikat dirinya akan siap mengorbankan apa saja dari dirinya untuk jihad fii sabilillah termasuk sesuatu yang paling mahal bagi dirinya, yakni nyawa. Figur yang patut diteladani semangat pengorbanannya adalah Ibrahim as. dan Ismail as. Nabi Ibrahim dengan ikhlas mengorbankan anak kesayangannya untuk menjalankan titah Allah lalu Ismail dengan ikhlas mau memberikan raga dan jiwanya untuk sebuah perintah Allah. Begitu besarnya makna pengorbanan yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim
as., Ali Syariati dalam bukunya "Haji" menuliskan:
Sebagai Muslim kita dituntut untuk tunduk dan patuh kepada Allah secara total, dituntut untuk menjadikan Islam sebagai pola hidup kita dengan Kitabullah dan Sunnaturrasul sebagai undang-undang kehidupan kita. Sebagai Muslim kita harus mencintai Allah, Rasul dan jihad di atas segalanya (baca Qs.9:24). Wallahu'alam. (Samsu Nugraha) |