Totalitas dalam Islam

 
Bukan lagi sesuatu yang mengherankan jika melihat seorang yang mengaku Muslim tapi perilakunya jauh dari nilai-nilai Islam. Mengaku diri Muslim tapi shalatnya masih belang-belong alias dilalaikan. Mengaku diri Muslim tapi masih suka mencuri, berjudi, berzina, dan segala macam perbuatan maksiat lainnya. Kadang ada yang shalatnya rajin tapi masih suka makan riba dan tidak mau menunaikan zakatnya, padahal salah satu fungsi sosial dari shalat adalah mencegah perbuatan keji dan munkar.

Seharusnya menjadi sesuatu yang mengherankan jika seseorang yang beragama Islam tapi kehidupannya jauh dari nilai-nilai Islam. Namun, karena terlalu seringnya kita menyaksikan realitas yang demikian di zaman sekarang ini, akhirnya menjadi sesuatu yang lumrah jika melihat komunitas 'Muslim' yang kehidupannya dipenuhi nilai-nilai Jahili. Menjadi sesuatu yang lumrah jika seorang wanita yang menyatakan dirinya Islam tapi tanpa malu-malu memamerkan aurat tubuhnya di depan umum. Dan sungguh agak sulit di zaman ini untuk menemukan pribadi-pribadi yang keseharian hidupnya dipenuhi nilai-nilai kebenaran al-Islam.

Al-Islam adalah ad-Dien (sistem kehidupan) yang diturunkan Allah kepada ummat manusia melalui Rasul-Nya agar manusia selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Sebagai sistem nilai dalam kehidupan, Islam harus dilaksanakan secara kaffah (menyeluruh) sebagaimana firman Allah dalam al-Qur'an:
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (Qs.al-Baqarah:208)

Tidak dibenarkan melaksanakan Islam secara parsial. Sebagian dilaksanakan sebagian ditinggalkan. Ritualnya berdasarkan Islam tapi mu'amalahnya menggunakan sistem non-Islam. Sembahyangnya sembahyang Islam tapi ekonominya ekonomi kapitalis (ribawi). Di masjid menjadi seorang Muslim, di panggung politik menjadi seorang sosialis. Semua itu tidak dibenarkan!

Setelah seseorang menyatakan dirinya sebagai Muslim dengan mengakui dan mengikrarkan dua kalimat syahadat "asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah" maka, wajib baginya untuk mewujudkan nilai yang terkandung dalam dua kalimat syahadat tersebut dalam seluruh sektor kehidupannya, ini konsekuensi logis dari sebuah ikrar.

Seorang Muslim adalah orang yang berserah diri kepada Allah swt. Kepasrahan dan ketundukannya kepada Allah merupakan perwujudan dari keimanannya kepada Allah dan keyakinannya akan kebenaran kalimat tauhid laa ilaaha illallah, bahwa tiada yang disembah selain Allah, tiada yang ditakuti selain Allah, tiada yang diagungkan selain Allah, tiada yang dituju dalam hidupnya selain Allah.
"Katakanlah: 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)'." (Qs.al-An'am:162-163)

Mu'min sejati adalah mereka yang totalitas dan beriman dan berislam, yaitu yang tunduk pada hukum Allah, yang menjadikan al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai referensi perjalanan hidupnya dan siap mengorbankan harta dan jiwanya demi tegaknya dienul Islam. Mereka menyadari bahwa dirinya bukan milik siapa-siapa melainkan milik Allah Rabbul 'aalamiin.
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mumin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (Qs.at-Taubah:111)

Seorang Mu'min adalah orang yang telah melakukan transaksi jual beli dengan Allah, dengan syahadat sebagai ijab kabulnya. Seorang Mu'min menjual harta dan dirinya dan Allah membelinya dengan syurga.

Orang yang telah menyadari hakikat dirinya akan siap mengorbankan apa saja dari dirinya untuk jihad fii sabilillah termasuk sesuatu yang paling mahal bagi dirinya, yakni nyawa. Figur yang patut diteladani semangat pengorbanannya adalah Ibrahim as. dan Ismail as. Nabi Ibrahim dengan ikhlas mengorbankan anak kesayangannya untuk menjalankan titah Allah lalu Ismail dengan ikhlas mau memberikan raga dan jiwanya untuk sebuah perintah Allah.

Begitu besarnya makna pengorbanan yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim as., Ali Syariati dalam bukunya "Haji" menuliskan:
Dahulu Ibrahim membawa puteranya Ismail untuk dikorbankan di tempat ini. Dan engkau, siapakah atau apakah Ismailmu? Kedudukanmu? Harga dirimu? Profesimu? Uang? Rumah? Kebun-kebun? Mobil? Cinta? Keluarga? Pengetahuan? Kelas sosial? Seni? Pakaian? Nama? Hidupmu? Keremajaanmu? Keelokan paras mukamu? Bagaimanakah aku dapat mengetahui apa dan siapa Ismailmu itu? Engkau sendirilah yang mengetahuinya.! Tetapi apa dan siapa pun Ismailmu itu bawalah ia dan korbankanlah ia di tempat ini. Aku tidak dapat mengatakan apa dan siapa Ismailmu itu, aku hanya dapat memberikan beberapa petunjuk agar engkau mengetahuinya. Ismailmu itu adalah: setiap sesuatu yang melemahkan imanmu, setiap sesuatu yang menghalangi 'perjalananmu', setiap sesuatu yang membuat engkau enggan menerima tanggung jawab, setiap sesuatu yang membuat engkau memikirkan kepentingan engkau sendiri, setiap sesuatu yang membuat engkau tidak dapat didengarkan perintah Allah dan menyatakan kebenaran... (Ahmad Juwaeni, 1997)

Sebagai Muslim kita dituntut untuk tunduk dan patuh kepada Allah secara total, dituntut untuk menjadikan Islam sebagai pola hidup kita dengan Kitabullah dan Sunnaturrasul sebagai undang-undang kehidupan kita. Sebagai Muslim kita harus mencintai Allah, Rasul dan jihad di atas segalanya (baca Qs.9:24). Wallahu'alam.

(Samsu Nugraha)