Syahadah

"Katakanlah, ‘Hai ahli Kitab, marilah kita kepada kalimat yang sama antara kami dan kamu yaitu bahwa TIDAK ADA YG KITA SEMBAH SELAIN ALLAH, dan tidak kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun juga. Dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain dari Allah.’ Maka jika, mereka berpaling katakanlah, ‘SAKSIKANLAH BAHWA SESUNGGUHNYA KAMI ADALAH MUSLIM’."
Qs. Ali 'Imran : 64

Pemahaman tentang syahadah, sebagai pilar utama dienul Islam, menjadi urgensi, apalagi ketika pendekatan fiqhiyah mendominasi kaum Muslimin dalam memahami diennya. Padahal fiqh dan cabang-cabang tsaqafah Islamiyah itu sendiri berpangkal pada syahadah ini. Bahkan secara umum tsaqafah Islamiyah bertumpu pada tsaqafah ta'hiliyyah (doktrin-doktrin Islam). Karenanya tak heran kalau akhirnya muncul kontradiksi-kontradiksi yang mengenaskan.

Perdebatan tentang fiqh shalat hangat dan kadang mengalahkan hangatnya ukhuwah. Padahal seselai shalat kaum Muslimin berdo'a ‘Allahumaghfir lil Muslimina wal Muslimat...’ dan ‘Robbana firlana wali ikhwanina...’ memohon ampunan bagi seluruh kaum Muslimin dan saudara-saudara seiman. Dalam shalat kita bersumpah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku aku serahkan kepada Rabb semesta alam.

Dalam shalat kita menutup aurat secara rapi. Dalam shalat kita membesarkan hanya nama Allah, dalam shalat di surat al-Fatihah kita memohon kepada Allah agar ditunjuki jalan yang lurus, jalan para Nabi, shidiiqiin, shalihin, dan syuhada; dalam shalat kita berjanji untuk meminta tolong hanya kepada Allah, dan menyembah hanya Allah saja. Lalu setelah selesai shalat? Bagaimana sikap kita dengan teman dan saudara seiman lainnya? Waktu kita, hidup dan mati kita, benarkah untuk Allah dan perjuangan menegakkan dien-Nya? Aurat, jilbab, disimpan dimana? Nama Allah atau nama universitas, suku, ras dan lain-lain yang masih kita agungkan? Lalu jalan lurus yang telah tersedia kenapa dimohonkan saja dan tidak ditapaki? Benarkah kita hanya menyembah Allah saja dengan asyaddu hubalillah cinta yang bersangatan, mengalahkan cinta-cinta kita kepada selain Allah?

Inilah kontradiksi lebar yang ada. Dimana syahadah kita belum menempati maknanya yg utuh dalam jiwa. Syahadah masih samar dalam merah darah kita dan tidak men-sibghah (mewarnai) hati kita. Karena kita jahil terhadapnya, kita bodoh dan tidak mensikapinya secara tepat. Karenanya tak heran manakala seorang Muslim bercermin dalam cermin dien, yang muncul adalah wajah centang-perentang.

Antara Islam dan Muslim (sebagai pelaksana Islam), antara jalan hidup dan orang yang memasrahkan diri untuk berpedoman dengan jalan itu tidak ‘matching’. Tidak muncul wajah anggun Islam dalam diri Muslim sebagai pribadi atau secara kolektif dalam pentas peradaban masa kini. Yang ada adalah seorang Muslim yang menerima sebagian Islam dan menolak bagian lainnya, seorang Muslim yang memandang Islam dengan kacamata dari luar jati diri dien ini, yang menganggap Islam hanya sebagai urusan pribadi dan dia sebagai pribadi tak ada pembelaan apa-apa terhadap urusan dien ini, seorang muslim formal yang nominal.

Tandasnya, Muslim tidak sama dengan pelaksana Islam. Sungguh paradox yang mengenaskan. Maka tak ada pilihan bagi kita selain kembali kepada jati-diri kita sebagai pelaksana syahadah, orang yang terikat perjanjian dengan Allah. Dalam titik ini kita temui urgensi kembali pada pemahaman syahadah yang lurus. Wallahu 'alam bishshawab.

(tarbiyah - isnet)