Nasihat

Suatu hari Nabi saw berkata kepada para sahabatnya: "Dien itu adalah nasihat", seseorang di antaranya bertanya, "Bagi siapa ya Rasulullah?" Maka Nabi menjawab, "Bagi Allah, bagi kitab-kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin masyarakat, dan bagi ummat pada umumnya."
Ketika mengulas hadits ini Imam an-Nabawi, penulis Riyadh as-Shalihin mengutip Al-Khattib mengatakan bahwa kalimat ad-din an-nasihah (Dien adalah nasihat) berarti bahwa nasihat adalah penopang Dien dan merupakan pilar Dien (qiwan ad-din wa'imaduh).
Nasihat (juga munashahah) adalah konsep Qur'ani yang muncul di beberapa tempat dalam al-Qur'an, terutama di tempat-tempat yang dijadikan rujukan tentang tujuan dan fungsi kenabian. Maka kita baca dalam ayat-ayat dimana Nabi Nuh, Shalih, Hud, dan Syu'aib as. semuanya memberitahu pengikutnya bahwa misi mereka adalah memperingatkan dan menjadi nashih (pemberi nasihat).
Nasihat harus dibedakan dengan teguran (tawbikh), karena keduanya mungkin mempunyai aspek-aspek yang sama dan mungkin terkesan tumpang tindih. Menurut Al-Ghazali, perbedaan prinsip antara nasihat dengan tawbikh adalah bahwa yang satu bersifat rahasia dan sopan, sementara yang kedua bersifat terbuka dan langsung. Di sini, pendapat Imam Al-Ghazali sesuai dengan Imam Asy-Syafi'i yang mengamati bahwa jika seseorang menasihati saudaranya dengan diam-diam, ia telah memberi saudaranya itu suatu nasihat, tetapi jika ia telah memberi saudaranya itu nasihat secara terbuka, ia telah mengejek dan meremehkan saudaranya itu.
Kedua pandangan ini dapat dilihat sebagai penjelasan dari hadits yang mengatakan bahwa 'orang yang memberikan nasihat adalah orang yang dapat dipercaya'. Lebih lanjut, Al-Muqsidi mengutip Imam Ahmad bin Hambal mengatakan bahwa nasihat, seperti hishbah, merupakan kewajiban kolektif (Fardh kifayah) dan dapat diberikan begitu saja, sekalipun tidak diminta. Syari'at tidak mengatur cara pemberian nasihat, karena ia harus tetap merupakan kesadaran dan ketulusan individu. Pedoman satu-satunya dalam sunnah disampaikan melalui sebuah pandangan yang menetapkan bentuk terbaik dan nasihat bukan menetapkan prosedur untuk menyampaikannya. Karena itu nasihat harus dalam bentuk sebaik mungkin, disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Nasihat tidak boleh digunakan untuk mengungkapkan atau membuka rahasia dan kelemahan orang (tatabbu' al-awrat). Dan nasihat harus sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah dan bukan pada spekulasi, perkiraan, dan prasangka. Nasihat yang tidak ikhlas tidak akan memiliki nilai bahkan lebih jelek lagi jika nasihat itu didasarkan pada kesombongan (riya'). Untuk itu diperlukan dorongan dan keyakinan moral untuk membuat nasihat efektif. Hal ini hanya dapat dicapai jika kesadaran si pemberi nasihat tidak dibebani oleh ketakutan akan kewenangan atau ketakutan akan kehilangan keuntungan materi. Sumber terbesar kekuatan bathin adalah keyakinan pada Allah, dan keyakinan bahwa hanya Dia-lah yang menetapkan nasib setiap manusia.

(diambil dari Sabiluna, 27 Februari 1999)