Memaknai Dosa
(Yusuf Burhanuddin)

Dalam Islam, orang yang melanggar larangan syari’atnya diberi label ‘berdosa’. Lebih jauh, Rasulullah mendefinisikan dosa dengan, "Apa yang mengganjal dalam hatimu, dan engkau takut kalau hal itu diketahui orang lain." (HR.Imam Muslim). Hadits ini menegaskan, secara psikologis manusia dapat mengidentifikasikan apakah perbuatannya termasuk dosa atau tidak. Kemampuan memaknai dosa menjadi sangat penting, berdasarkan beberapa alasan berikut.

Pertama, di samping dilebihkan secara fisik, manusia menjadi lebih berharga dari makhluk lain karena amal perbuatannya. Karenanya, tatkala dosa tidak diindahkan, seketika itu pula kemuliaan itu copot dari manusia. Tidak berlebihan kalau dikatakan, dosa adalah koridor yang memelihara nilai-nilai keutuhan manusia. Allah swt telah memberi manusia kemampuan membedakan mana amal baik dan amal yang terlarang.

Potensi membedakan perbuatan dosa atau tidak merupakan anugerah terbesar yang dimiliki manusia. Selanjutnya, potensi itu harus dibimbing dengan wahyu Allah dan sunnah Rasul-Nya. Sehingga, kebersihan diri manusia akan senantiasa tegak dan lestari dalam bingkai Islami.

Kedua, pemahaman ini akan mengantarkan seseorang untuk memposisikan dosa sebagai kontrol nurani. Dengan demikian, ia akan merasa ada yang mengawasi dan memantau tindak tanduknya dalam setiap detak nafas, agar tak terperosok pada perilaku yang menyimpang. Atas prinsip ini pula, seorang pencuri atau seorang pembunuh, akan tetap dihantui rasa bersalah, meski perbuatannya tidak diketahui orang lain dan lepas dari jerat hukum dunia. Ia tidak dapat memungkirinya kendati tidak mengungkapkannya dalam kata-kata. Perasaan bersalah itu, sejatinya, adalah wujud kekuatan Allah dalam mengawasi gerak-gerik hamba-Nya. Paling tidak, hadits Rasulullah di atas menegaskan, hati kecil setiap orang dapat memilah mana perbuatan yang sesungguhnya tidak patut dilakukan.

Sulit dibayangkan bagaimana jadinya, jika kata ‘dosa’ dihapus dari kamus peradaban manusia. Kehidupan akan kacau, karena setiap orang merasa bebas berbuat apa saja. Allah swt berfirman, "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."
Qs. al-An’am : 179

Dengan mudah, ringan, dan tanpa beban, banyak orang menyakiti sesama. Bahkan akhir-akhir ini, nyawa manusia seperti tidak ada harganya. Tidak sedikit orang membunuh karena alasan yang sangat sepele. Tidak peduli korbannya adalah kerabat atau sanak famili. Padahal, kesempurnaan nilai kemanusiaan seseorang akan tetap utuh manakala ia masih bertanggung jawab---minimal secara moral---atas segala ulahnya.

Semoga masih ada kesempatan bagi kita untuk kembali kepada derajat kemanusiaan yang mulia. Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Asalkan setiap kita berkemauan kuat tidak mengulangi segala kesalahan yang pernah kita lakukan. Namun, dosa-dosa yang lewat tidak cukup sekadar ditangisi. Kita harus menutupnya dengan amal-amal yang lebih baik. Rasulullah saw bersabda, "Wahai sekalian manusia, bertakwalah di mana pun kamu berada. Iringilah perbuatan jelek itu dengan perbuatan baik, niscaya dosanya akan terhapus. Dan hendaklah kalian bergaul antar sesama dengan akhlak yang baik."
(HR.Tirmidzi)