Bertawakkal dan Bergantung pada Selain Allah

Berdasarkan firman Allah: "Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman."
Qs. Al-Maidah : 23

"Sesungguhnya Allah telah menolong kamu di beberapa banyak tempat dan pada peperangan Hunain, tatkala kamu sombong dengan banyaknya kamu, tetapi tidak berfaedah bagi kamu sedikitpun, dan (jadi) sempit bagi kamu bumi yang luas itu, kemudian kamu berpaling sambil mundur."
Qs. At-Taubah: 25

Dalil ini berpedoman pada pengertian ‘Laa-Ilaha-Illallah’ yang maknanya antara lain tidak akan melakukan permohonan untuk ketetenangan dan kekuatan selain kepada Allah swt. Tawakkal bukan berarti meninggalkan kerja. Bahkan Allah swt menyuruh kita untuk bekerja, tetapi kita dilarang menggantungkan hidup kita pada pekerjaan itu. Allah telah menyuruh mempersiapkan perlengkapan perang, tetapi Allah juga menyuruh kita untuk menggantungkan segala kehidupan kita hanya kepada-Nya.

Allah menyuruh kita bekerja dan berusaha, tetapi Dia juga menyuruh kita beriman bahwa Dialah yang memberi rezeki. Dia menyuruh kita berobat, tetapi dengan syarat kita berkeyakinan bahwa yang menyembuhkannya hanyalah Allah swt. Ringkasnya, barangsiapa yang bekerja, berusaha dan berikhtiar dengan tidak bertawakkal dan bergantung pada Allah, ia telah merusak syarat tadi. Sebaliknya orang yang bertawakkal dan bergantung kepada Allah, tapi tanpa daya usaha, juga ia telah merusak salah satu syarat tadi.

Dari sini dapat diandaikan suatu perbedaan antara orang kafir dan orang mukmin. Orang kafir, ia membanting tulang dan mengerahkan segala tenaga dan berusaha, orang mukmin juga membanting tulang dan mengerahkan segala tenaga serta berusaha; tetapi orang-orang kafir, ia tidak menggantungkan harapannya kepada Allah, bahkan ia menggantungkan pada usahanya. Sebaliknya seorang muslim di samping usahanya tersebut ia menggantungkan segala harapannya kepada Allah swt.

Bergantung dengan SEBAB dan melupakan bahwa yang mengizinkan SEBAB itu berproses adalah Allah adalah maskiat. Bergantung pada SEBAB dan disertai keyakinan bahwa SEBAB-SEBAB itu tidak ada hubungannya dengan Allah adalah SYIRIK yang dapat menghancurkan SYAHADATAIN. Dalam al-Qur'an banyak disebutkan tentang masalah ini yang antara lain seperti dalam firman-Nya: "Maka bukanlah kamu bunuh mereka, tetapi Allah yang bunuh mereka; dan tidak engkau melempar waktu engkau melempar, tetapi Allah yang melempar."
Qs. Al-Anfal : 17
"Tetapi kemenangan itu tidak ada melainkan dari pihak Allah Yang Gagah, Yang Bijaksana."
Qs. Ali Imran : 126
"Sesungguhnya Allah, Dia-lah Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuasaan, Yang sangat teguh."
Qs. Adz-Dzariat : 58
"Dan apabila aku sakit, maka Dia sembuhkan daku."
Qs. Asy-Syu'ara : 80
"Tidakkah engkau lihat bahwa Allah telah turunkan air dari langit, lalu jadialah bumi (ini) hijau segar? Sesungguhnya Allah, Halus, Amat mengetahui."
Qs. Al-Hajj: 63

Kita harus menyakini bahwa Allah menjadikan sebab musabab di dunia ada fungsinya (peranan atau tugasnya) dan harus percaya bahwa Allah-lah yang menjadikan semua itu. Allah berfirman: "Allah itu Pembikin tiap-tiap sesuatu; dan Dia Pemelihara atas tiap-tiap sesuatu."
Qs. Az-Zumar : 62

Barangsiapa yang mengingkari sebab-sebab dan menganggap tidak ada gunanya adalah KAFIR, sebaliknya yang meyakini bahwa sebab-sebab itu memiliki pengaruh sendiri adalah SYIRIK.

(tarbiyah - isnet)