Rasulullah teladan hidup kami

Di dalam jiwa manusia ada kecenderungan untuk meniru, suatu fitrah dan naluri yang sangat manusiawi. Mungkin awalnya seseorang yang dilamun rindu, sesat jalan, dan kehilangan tujuan. Selanjutnya tindakan ini diikuti oleh orang-orang awam dan akirnya menjadi hujjah bagi orang-orang kafir. "Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya." (al-Anbiya 53)
"Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama (nenek moyang) dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka." (az-Zukhruf 23)
Begitulah kira-kira awal mula kesesatan. "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummah yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-sekali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekuukan Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan dunia. Dan sesungguhnya di akhirat dia benar-benar orang yang saleh." (an-Nahl 120-122)
Begitu juga halnya dengan orang-orang yang telah menyatakan keimanannya kepada para nabi Allah dan memegang teguh kebenaran yang diyakini sampai ajalnya, yang dimulai dari seorang per seorang dan akhirnya menjadi suatu jamaah. Sabda Rasulullah saw: "Dan senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang dengan gigih membela kebenaran, tidak memperdulikan orang-orang yang hendak menundukkan mereka atau orang yang bersimpang jalan dengan mereka sampai datang takdir Allah sedang mereka tetap kokoh pada pendirian mereka." (HR. Muslim, Hakim dan Ahmad dalam berbagai versi)
Kenyataannya kebatilan dan kejahatan jauh lebih berkembang pesat dibandingkan dengan kebenaran dan kebajikan. Oleh karena itu orang-orang yang benar selalu menjadi golongan minoritas. "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (al-An'am 116)
"Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan peribadatan-peribadatan lain)." (Yusuf 106) "Berapa banyak terjadi golongan sedikit dapat mengalahkan golongan banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang benar." (al-Baqarah 249)
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri." (Fusshilat 33)
Di akhirat kelak, para pemimpin durjana itu akan diberi tugas memimpin para pengikutnya untuk menggiring mereka masuk ke dalam api neraka. "Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruknya tempat yang didatangi." (Hud 98)
"Yaitu ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan ketika segala hubungan antara mereka terputus sama sekali, dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: 'Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami'. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka." (al-Baqarah 166-167)
Kisah-kisah tentang hal ini sejak dahulu sudah diketengahkan kepada kita dalam al-Qur'an. "Dan bacakanlah kepada mereka berita yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda) maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan jika Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan derajat ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar dapat berpikir." (al-A'raf 175-176)