ALLAH tujuan kami

Tujuan mereka
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga)." (Ali-'Imran 14)
"Katakanlah: 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (At-Taubah 24).
Islam tidak melarang seseorang menikmati kemewahan hidup di dunia. Malah Islam tidak menyangkal bahwa kaum mukminin adalah pemilik dunia, dunia diperuntukkan bagi mereka. "Katakanlah: 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulalah yang mengharamkan) rizki yang baik?' Katakanlah: 'Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang yang mengetahui." (Al-A'raf 32)
Perbedaan antara "menguasai dunia" dan "dikuasai dunia". Yang pertama dianjurkan dan disukai-Nya, sedangkan yang kedua dilarang dan dijauhi-Nya. Berbeda antara dunia yang ada di genggaman tangan mereka dengan dunia yang mendekam dalam kalbu mereka. Berbeda antara menjadikan dunia sebagai sarana dengan dunia sebagai tujuan. Berbeda antara menjadikan dunia sebagai jembatan penyeberangan dengan dunia sebagai tempat perhentian. Dunia ini sifatnya sementara meskipun terasa lama. Dunia ini berputar, meskipun tampaknya diam dan tenang. Hal ini bisa kita buktikan dengan peristiwa-peristiwa yang kita lihat di setiap bidang kehidupan, yaitu: sirkulasi uang, politik, situasi masyarakat yang menyangkut individu, keluarga, dan bangsa. "Dan masa (kejadian dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)." (Ali Imran 140)
"Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah." (Al-Qashash 88)
Sesungguhnya bahwa maut itu saja sudah cukup sebagai peringatan dan bukti serta ancaman pendeknya dunia, berbolak baliknya, dan kehinaan. Dan sebagai bukti juga bahwa ia akan berakhir, seperti berakhirnya hidup suatu keluarga, seperti berakhirnya hidup suatu bangsa, dan seperti berakhirnya hidup negara-negara serta berbagai kerajaan. "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, ... " Kemudian Dia berkenan melukiskan proses perkembangan kehidupan itu pada akhir ayat. "...ibarat hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur." (Al-Hadid 20)
Itulah perumpamaan sederhana dari tujuan mereka yang kafir, kemudian apa tujuan kami?

Tujuan kami
Adapun kecintaan kami kepada Allah swt adalah karena pengetahuan kami tentang Allah swt. Setiap kali pengetahuan kami bertambah setiap kali itu juga kecintaan kami bertambah. Dan kami mengenali Allah swt melalui asma dan sifat-sifat-Nya. Karena asma dan sifat-sifat-Nya mempunyai kekuatan dan pengaruh yang dasyat. Jika kami mencintai seseorang karena sifatnya yang pemurah maka Allah adalah Dzat yang paling pemurah.
1. Asma Allah itu bersifat mutlak sedangkan asma manusia itu bersifat nisbi. "Dan rahmah-Ku meliputi segala sesuatu."(al-A'raf 156)
"Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Yunus 107)
"Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Fathir 2)
2. Allah swt memiliki dua sifat berbeda dalam waktu yang sama namun mutlak adanya, baik di dunia maupun di akhirat, misalnya Maha Penyayang dan Maha Pembalas. "Kabarkanlah kepada hamba-hambaKu bahwa sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan sesungguhnya azabKu adalah azab yang sangat pedih." (al-Hijr 49-50)
"Yang mengampuni dosa dan menerima taubat, keras hukuman-Nya, yang mempunyai karunia, tiada Rabb selain Dia. Hanya kepadaNyalah semua makhluk akan kembali." (al-Mu'min 3)
3. Asma dan sifat-sifatNya selain memberi ruh ibadah juga membuat kita merenung dan berdo'a. Kami juga mencintai Allah melalui penciptaan-Nya dalam bentuk makhluk, dalam bentuk jiwa, dan dalam bentuk semesta alam, rasa cinta ini menghantarkan kami untuk merenungi nikmat Allah yang melimpah. "Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa bentuk dan rasanya namun tidak sama rasanya, makanlah dari buahnya bila ia berbuah dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. sesungguhnya Allah tidak menyukai yang berlebih-lebihan." (al-An'am 14)
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidakkah kamu dapat menghingganya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah." (Ibrahim 34)
Apabila seorang manusia berbuat kebaikan kepada manusia lainnya, baik dilakukan hanya sekali maupun lebih sudah melekat pada sipenerima dan kebaikan itu diingatnya serta dipujinya. Tetapi kebaikan Allah swt yang tidak terputus sekejappun kepada manusia, yang senantiasa berulang setiap kali, kenapa tidak membawa manusia untuk menyembahnya??? Kami juga merasa ngeri dan takut kepada tujuan kami. Mungkin ada yang bertanya bagaimana mungkin rasa cinta dan takut dapat bertemu? Misalnya seorang anak yang mencintai ayahnya namun pada saat yang sama ia merasa takut melakukan kesalahan yang dapat menimbulkan kegusaran ayahnya. Apabila rasa takut kepada Allah telah bersemi dalam hati seorang mukmin maka hati akan memperoleh beberapa manfaat, diantaranya:
1) Seseorang akan menjadi taqwa kepada Allah karena rasa takutnya sama seperti menjadi takwa kepada Allah karena rasa cintanya.
2) Rasa takut dan cinta itu berdaya guna mematahkan semua rasa takut kepada selain Allah sehingga seorang mukmin mampu tampil disetiap arena sebagai pemberani yang gagah.
Namun bagaimana menimbulkan rasa takut kepada Allah swt?
1) Melalui merenung dan menghayati asma dan sifat-sifat-Nya.
2) Mengingat sikap dan tindakan-Nya (ganjaran). "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenaNya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal." (al-Anfal 2)