Bank & Riba

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila...."
Qs. al-Baqarah : 275

Bank, saat ini adalah suatu bagian sistem keuangan dunia bersama dengan asuransi, reksa dana, maupun bursa saham dan bursa valas. Semua sistem keuangan ini nyaris tidak ada satu pun mendekati sistem keuangan Islami. Bank Syariah dan Asuransi Takaful memang saat ini berupaya menyaingi sistem keuangan lainnya, namun karena di depan mereka adalah sistem ekonomi dunia dengan konsep Yahudi, maka sistem keuangan Islam itu hampir tidak dapat berbuat apa-apa.

Lembaga keuangan saat ini seperti bursa saham, bursa valas, reksa dana dan terutama bank, umumnya hidup dari belitan riba. Mereka makan bunga dan berjudi dengan mata uang. Sektor valuta asing (valas) misalnya, telah mematikan ratusan perusahaan akibat kalah berjudi dalam permainan mata uang. Pada perbankan juga demikian, hidup orang tidak lepas dari bunga dan bunga. Kredit mobil menggunakan bunga, kerdir rumah dengan bunga dan belanja sehari-hari menggunakan kartu kredit pun menggunakan hitungan bunga. Semakin utang tidak dibayar, maka semakin tinggilah bunganya. Sehingga bisa jadi antara pokok dengan utang bunga lebih besar bunganya.

Kehidupan riba saat ini mau-tidak mau telah menghampiri dan bahkan melingkupi sebagian besar manusia di dunia. Kita bertanya sekarang, kalau sudah demikian siapa harus dipersalahkan. Sistemnya-kah atau manusianya?

Riba, merupakan bentuk penyelenggaraan sistem keuangan yang secara tegas ditentang oleh Allah dan rasul-Nya. Dalam haditsnya bahkan Nabi Muhammad saw mengidentikkan orang yang makan riba sebagai orang gila. Dan hukuman bagi si pemakan uang (harta) riba itu sama dengan hukuman orang yang kawin dengan ibunya sendiri. Naudzubillahi min dzalik.

Perbuatan riba itu sangat banyak. Dalam beberapa bulan terakhir ini misalnya, kita menyaksikan orang ramai-ramai membeli dollar saat harganya rendah terhadap rupiah, dan lalu menjualnya bila dollar sedang tinggi. Dari penjualan itu mereka untung, dan keuntungannya itu adalah riba. Dan bahkan dengan tingginya suku bunga perbankan saat ini orang beramai-ramai menyimpan uang di bank sehingga sudah pasti, menyimpan karena bunga itu adalah riba.

Sebagai Muslim, tentu kita berupaya menghindarkan diri dari riba. Namun harus diakui bahwa riba itu sudah melingkupi banyak manusia. Bukan saja sistem ini yang melingkupi dunia, tetapi juga hati nurani manusia telah buta akibat riba. Banyak perusahaan kini mati akibat orang takut berdagang dan lebih senang menyimpan uang di bank, padahal Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Wallahu'alam bishshawab.