Inter Islamic Net

The Daily One-Minute Message
In English & Indonesian Language
Short Islamic Articles
In English & Indonesian Language
The Global Islam
In English & Indonesian Language
al-Kisah
In Indonesian Language Only

[InterIslamicNet Home]

Contact Info :

[kirim e-mail dong !]


Khotbah Terakhir :
Nabi Muhammad saw

Haji perpisahan Rasulullah saw dapat dikatakan sebagai ‘titik puncak’ dari karir kerasulannya. Beliau telah mencapai usia 63 tahun menjelang berakhirnya tahun ke-10 Hijriah dimana beliau memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji pada waktu itu.

Sampai saat itu, misi Nabi Muhammad saw telah mencapai target. Kepada mereka yang tadinya berada dalam kegelapan, beliau menginspirasikan mereka via pancaran nur Ilahi agar mengikuti jalan ALLAH, Maha Pencipta, Penguasa langit dan bumi. Dari masyarakat yang tadinya berpecah belah dan sering terlibat perang antar suku, Nabi Muhammad saw mempersatukan hati mereka dengan keberanian aksinya. Beliau telah menunjukkan cintanya kepada ALLAH dan pendek kata, Rasulullah saw telah mengantarkan manusia ke jalan al-Haq dengan segala implikasinya.

Hari ke-8 Zulhijah pun tiba. Para jama’ah haji pergi di hari itu juga dari Mekkah ke ‘Arafah agar dapat melaksanakan upacara di sana sejak tengah hari 9 Zulhijah hingga terbenamnya matahari. Pada 8 Zulhijah, yang juga disebut Hari Tarwiyyah, Nabi ke ‘Arafah melalui Mina dan tinggal di Mina hingga terbitnya matahari 9 Zulhijah. Kemudian beliau menunggang untanya, lalu berangkat ke ‘Arafah dan turun di suatu tempat bernama Numrah, dimana kemahnya telah didirikan. Ketika berbicara di hadapan pertemuan besar di sana, beliau telah siap menyampaikan khotbah bersejarah sambil menunggang unta.

Pada hari itu, bumi ‘Arafah menyaksikan suatu pertemuan yang besar dan megah, yang hingga pada waktu itu belum pernah disaksikan penduduk Hijaz. Suara tauhid dan slogan-slogan ibadah kepada ALLAH Yang Maha Esa bergema di sana. "Labbaik, Labbaik," sebagai salah satu ucapan mereka.

Tempat yang hingga beberapa saat sebelumnya merupakan kediaman syirik dan penyembahan berhala, kini menjadi basis peribadatan kepada ALLAH Yang Maha Esa. Nabi mendirikan shalat Dzuhur dan Ashar di ‘Arafah bersama 114.000 jama’ah, dan kemenangan Islam atas syirik pun menjadi final dan pasti. Setelah itu, Nabi menaikki untanya lalu menyampaikan suatu khotbah bersejarah, yang diulangi oleh salah seorang sahabatnya dengan suara nyaring, sehingga orang-orang yang dari kejauhan pun dapat mendengar dengan jelas apa yang beliau katakan.

Inilah petikan khotbah bersejarah tersebut :

"Segala puji bagi ALLAH, maka kami memuji-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya dan kepada-Nya kita dikembalikan. Kami berlindung kepada ALLAH dari segala bentuk kejahatan, dari segala keburukan yang ada pada diri kami masing-masing dan dari konsekuensi perbuatan buruk kami. Barangsiapa yang memperoleh petunjuk ALLAH, maka ia tak akan sesat, dan tak ada suatu pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya sesudah ia sesat. Aku bersaksi bahwa tiada ilah kecuali ALLAH, Yang Maha Kuasa, tiada sekutu bagi-Nya. Kekuasaan adalah milik-Nya dan kepada-Nya kita berserah diri dan bersyukur. Dia menganugerahkan kehidupan dan mengakhiri kehidupan itu dan Dia Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada ilah selain ALLAH, Yang Maha Esa ; Dia memenuhi janji-Nya dan memberikan kemenangan kepada tentara-Nya, dan Dia sendiri menaklukkan musuh-musuh Islam."

"Hai manusia ! Dengarkan kata-kata saya, karena mungkin saya tidak akan bertemu lagi dengan Anda sekalian di sini di waktu yang akan datang. ALLAH telah berfirman : ‘Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dari berbagai suku dan bangsa agar kalian saling mengenal. Yang paling mulia di sisi ALLAH adalah yang paling bertaqwa di antara kalian.’ Tiada kelebihan (keunggulan) bagi golongan Arab di atas yang non-Arab, atau bagi non-Arab di atas yang Arab, dan tiada kelebihan (keunggulan) bagi orang berkulit putih di atas yang berkulit hitam, atau yang berkulit hitam di atas yang berkulit putih, melainkan yang paling taqwa di antaramu sekalian. Seluruh manusia adalah keturunan Adam dan Adam diciptakan dari tanah."

"Hai manusia ! Darah dan harta (kehormatan dan reputasi) Anda adalah suci di antara satu sama lain sebagaimana sucinya hari bulan ini, hingga hari dimana Anda menemui ALLAH, dan setiap pelanggaran terhadapnya adalah haram."

Untuk meyakinkan kesan-kesan kata-kata ini pada manusia tentang kesucian nyawa dan harta kaum Muslim, Nabi meminta kepada Rabi’ah bin Umayyah untuk menanyakan kepada mereka, "Bulan apakah sekarang ?"
Mereka menjawab, "Ini adalah bulan suci, dan peperangan dalam bulan ini dilarang dan haram."
Kemudian Nabi berkata kepada Rabi’ah, "Katakan kepada mereka, ‘ALLAH telah menyatakan darah dan harta Anda sekalian suci di antara satu sama lain sebagaimana bulan ini hingga Anda sekalian meninggalkan dunia ini."
Beliau berkata lagi kepada Rabi’ah, "Tanyakan kepada mereka, ‘Tanah apakah ini ?’"
Mereka menjawab, "Ini tanah suci, dan pertumpahan darah serta pelanggaran di dalamnya dilarang keras."
Beliau kemudian berkata kepada Rabi’ah, "Katakan kepada mereka, ‘Darah dan harta Anda adalah suci sebagaimana tanah ini, dan segala jenis pelanggaran di dalamnya terlarang.’"
Sesudah itu, Nabi berkata kepada Rabi’ah, "Tanyakan kepada mereka, ‘Hari apakah ini ?’"
Mereka menjawab, "Ini hari Haji Akbar."
Nabi berkata, "Katakan kepada mereka, ‘Darah dan harta Anda suci seperti hari ini.’"

"Wahai manusia ! Ketahuilah bahwa darah yang tertumpah di Zaman Jahiliyah harus dilupakan, dan tak boleh ada pembalasan dendam atasnya. Bahkan darah Ibn Rabi’ah (famili Nabi) harus dilupakan."

"Anda sekalian akan kembali kepada ALLAH. Dan di alam (akhirat) itu, semua perbuatan baik dan buruk Anda akan ditimbang. Saya katakan kepada Anda, orang yang kepadanya telah diberi amanat, harus mengembalikan amanat itu kepada pemiliknya."

"Wahai manusia ! Haruslah Anda ketahui bahwa riba itu dilarang keras dalam Islam. Orang yang telah menanamkan modalnya untuk mendapatkan bunga hanya dapat mengambil kembali modalnya saja. Mereka tak boleh menindas ataupun ditindas. Dan mengenai bunga yang dihutang oleh orang-orang yang berhutang kepada ‘Abbas sebelum Islam, hutang bunga itu tidak berlaku lagi, dan dia tidak berhak untuk menuntutnya."

"Hai manusia ! Setan telah kehilangan harapan untuk disembah di negeri Anda. Tetapi, apabila Anda mengikutinya dalam hal-hal kecil maka ia akan bergembira dan senang. Maka janganlah mengikuti setan."

"Perlulah mengatur bulan-bulan yang halal dan suci sesuai dengan hari-hari dimana ALLAH menciptakan langit, bumi, bulan dan matahari. Di sisi ALLAH, jumlah bulan adalah dua belas. Dari jumlah itu, Dia telah menyatakan empat di antaranya sebagai bulan suci. Bulan-bulan suci itu ialah bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, yang semuanya berurutan, dan Rajab."

"Wahai manusia ! Istri Anda mempunyai hak atas Anda, dan Anda mempunyai hak atas mereka. Hak Anda atas mereka tak boleh menerima siapa pun dalam rumah tanpa izin Anda, dan tak boleh melakukan sesuatu yang tak jujur. Apabila mereka melanggarnya maka ALLAH mengizinkan Anda meninggalkan tempat tidur mereka dan menghukum mereka. Namun, apabila mereka kembali ke jalan yang benar, Anda harus memperlakukan mereka dengan ramah dan cinta kasih, dan harus memberikan nafkah kepada mereka dengan sarana kehidupan yang menyenangkan."

"Saya anjurkan kepada Anda sekalian tanah ini untuk berlaku ramah kepada istri Anda, karena Anda menerima mereka sebagai amanat dari ALLAH, dan mereka menjadi halal bagi Anda dengan hukum-Nya."

"Wahai manusia ! Dengarlah kata-kata saya dengan cermat dan pikirkanlah. Saya akan meninggalkan kepada Anda sekalian dua hal penting, yang satu adalah Kitab ALLAH dan yang lainnya adalah kata-kata dan sunnah saya. Apabila Anda menta’ati keduanya maka Anda tak akan pernah tersesat."

"Wahai manusia ! Dengarkanlah kata-kata saya, dan pikirkanlah. Setiap Muslim adalah saudara Muslim lainnya, dan seluruh Muslim sedunia adalah saling bersaudara. Dan setiap harta Muslim tidak halal bagi Muslim lainnya kecuali bila ia memperolehnya dengan niat baik."

"Wahai manusia ! Anda yang hadir hendaklah menyampaikan pembicaraan ini kepada yang tidak hadir. Sesudah saya, tak akan ada lagi nabi, dan setelah anda, tak akan ada lagi ummah."

Kemudian Nabi memberi isyarat ke langit dengan jari telunjuk seraya berkata, "Ya ALLAH ! Saya telah menyampaikan risalah-Mu."
Kemudian, setelah tiga kali mengatakan, "Ya ALLAH ! Saksikanlah itu," beliau mengakhiri khotbahnya.

Nabi tinggal di ‘Arafah pada 9 Zulhijah hingga terbenamnya matahari. Sebelum gelap, beliau menunggang untanya dan menghabiskan sebagian malam di Muzdalifah, dan antara fajar dan terbitnya matahari di Masy’ar. Pada hari ke-10, beliau pergi ke Mina dan melakukan upacara melempar jumrah, melaksanakan korban dan taqshir. Kemudian beliau pergi ke Mekkah untuk melaksanakan upacara haji lainnya. Dengan ini semua, beliau mengajarkan lewat peragaan praktis cara menjalankan upacara haji.

Dalam istilah hadits dan sejarah, perjalanan haji bersejarah ini dinamakan Hajjah al-Wada’ (Haji Perpisahan), dan kadang-kadang juga disebut Hajj al-Balagh (Haji Penyampaian Risalah) dan Hajj al-Islam (Haji Islam). Setiap nama tersebut mempunyai beberapa kaitan yang sangat jelas.

Menurut pendapat umum di kalangan ahli Hadits, Nabi menyampaikan khotbah di atas pada Hari ‘Arafah. Namun, sebagian di antaranya percaya bahwa khotbah itu disampaikan pada 10 Zulhijah.