Ajaran dan Keteladanan Nabi Nuh
(diambil dari ‘Koleksi Nabi-nabi dalam al-Qur’an’ oleh Dr.Afif Abdullah)

Balaghah al-Qur’an dalam Mengungkap Terjadinya Banjir Besar

Banjir besar pada zaman Nabi Nuh merupakan peristiwa sejarah yang menonjol dan dahsyat bagi manusia. Peristiwa itu merupakan adzab maha pedih yang ditimpakan Allah terhadap orang-orang kafir. Dan peristiwa itu memang merupakan ketetapan Allah yang Maha Besar.

"Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan Rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zhalim adzab yang pedih."
Qs. 25 : 37

Bagi orang yang menghayati ayat-ayat al-Qur’an yang mengungkap awal sampai akhir peristiwa terjadinya banjir besar, tentu akan mendapatkan betapa keunggulan fashahah dan bayan yang membuktikan bahwa al-Qur’an adalah wahyu Ilahi yang mengungguli seluruh susunan kalimat ciptaan manusia.

Alangkah indahnya gambaran al-Qur’an tentang terjadinya peristiwa banjir besar itu. Hujan yang turun dari langit, tetapi bukan sekedar hujan. Air hujan yang maha deras itu mengakibatkan terjadinya arus yang sangat deras. Bumi memancarkan air, tetapi air itu tidak terpancar dari satu tempat saja, bahkan semua permukaan bumi memancarkan air. Kalau al-Qur’an mengatakan, ‘Kami pancarkan sumber-sumber air bumi’, tidak mengandung pengertian bahwa seluruh bumi memancarkan air. Kemudian air bumi dan air langit berpadu menjadi satu menimbulkan kedahsyatan banjir besar dan di atas banjir besar yang ganas dan dahsyat itu berlayarlah sebuah kapal yang ditumpangi orang-orang Mu’min di bawah lindungan Allah.

Kemudian, perhatikanlah dengan seksama uslub dan nilai-nilai sastra ayat-ayat itu. Betapa indahnya susunan kalimat yang mudah diucapkan, dan nyaman dirasakan. Perhatikan pula akhiran pada tiap-tiap ayat merupakan irama yang serasi. Ini menunjukkan bahwa al-Qur’an memiliki pengungkapan yang jitu dan pengaruh besar ke dalam ruhani manusia.

Dan al-Qur’an menggambarkan akhir peristiwa banjir itu dengan ayat yang mengandung segi balaghah amat tinggi sebagai berikut: "Dan difirmankan, ‘Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,’ dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan, ‘Binasalah orang-orang zhalim’."
Qs. 11 : 44

Orang yang memperhatikan ayat ini tentu mengerti bahwa gambaran terjadinya thaufan (banjir besar) mempergunakan lafazh majaz dan balaghah yang tinggi. Kita tahu, betapa indah susunannya, Allah memperindah dengan menempatkan Wau al-Nusuq pada kata yang mengandung balaghah. Allah memulai dengan menyebutkan yang terpenting, yakni kemutlakan para penumpang kapal turun ke daratan. Hal itu tidak akan terjadi tanpa surutnya air dari permukaan bumi. Karena itu, Allah memerintahkan bumi untuk menelan airnya dengan firman-Nya, ‘Ibla’iy maak’i’. Kemudian, walaupun bumi menelan semua air dan air hujan yang tak kunjung reda berarti menyiksa penumpang kapal tersebut pada saat turun. Dan kemungkinan, air hujan yang turun dari langit itu juga bisa sebagai pengganti air yang ditelan bumi (tetap banjir). Oleh karena itu, Allah memerintahkan langit dengan firman-Nya: ‘Hai langit (hujan) berhentilah’, yakni air jangan sampai turun (ke bumi).

Demikian pula Allah menerangkan dalam al-Qur’an tentang keberadaan kapal di atas gunung Jud dengan lafazh istawat tidak istaqarrat karena kata istawat menunjukkan arti duduk yang tegak tidak bergoyang, condong dan bergerak. Dengan tegaknya perahu yang mendarat di atas gunung itu para penumpangnya tenteram hatinya dan mudah turun tanpa ada rasa takut. Berbeda dengan pengertian istaqarrat. Kata ini mengandung pengertian condong dan bergerak.

Terakhir, al-Qur’an menutup ayatnya dengan, ‘...dan dikatakan, binasalah orang-orang zhalim’. Ini merupakan doa orang-orang yang dihancurkan. Allah mensifati mereka dengan sifat zhalim agar orang-orang sesudah mereka mengerti bahwa siapa yang membuat kehancuran berhak mendapat kehancuran pula, agar tidak menimbulkan kebingungan makna bahwa kehancuran itu melanda semua orang, termasuk yang tidak berhak mendapat kehancuran.

Di antara Hakekat Ilmiah dalam al-Qur’an

Sesungguhnya, al-Qur’an itu menurut sifatnya adalah qadrat Allah di alam ini yang mengandung pengertian luas sesuai dengan sifatnya. Al-Qur’an diungkapkan dengan jitu, mendalam dan dapat dipahami oleh orang Arab sejak empat belas abad yang lalu sesuai dengan kemampuan jangkauan akalnya. Juga dipahami oleh orang-orang modern secara aktual, sesuai dengan penemuan ilmiah di seantero dunia ini. Di dalam al-Qur’an banyak kita batasi dengan dua contoh yang berkenaan dengan kisah Nabi Nuh as. Diterangkan dalam al-Qur’an, "Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita"
Qs. 71 : 16

Allah menerangkan bahwa matahari adalah bagaikan pelita yang dapat menerangi dengan nyala api yang ditimbulan oleh bahan bakar minyak atau spiritus. Dikatakan bahwa pelita itu adalah sumber cahaya (dapat menimbulkan cahaya dengan sendirinya, bukan memantulkan cahaya yang datang dari benda lain). Ilmu pengetahuan juga menerangkan bahwa matahari adalah planet yang berpijar, memancarkan cahayanya kepada planet-planet lain. Termasuk bulan yang pada waktu malam kelihatan bercahaya, sebenarnya bulan bukan sumber cahaya. Tetapi bulan sebagai pemantul sinar yang datang dari matahari ke planet bumi ini. Tepat sekali istilah al-Qur’an yang mengatakan bahwa bulan itu adalah nur (cahaya) bukan siraaj (pelita), karena bulan adalah benda yang tidak mengeluarkan nyala api, atau dapat dikatakan bahwa bulan adalah satelit bumi yang gelap.

Ayat al-Qur’an sebagai ungkapan perkataan Nabi Nuh sebagai berikut, ‘Dan Allah menumbuhkan kami dari tanah dengan sebaiknya.’ Ayat ini menerangkan kepada kita bahwa Allah menyempurnakan hidup kita ini dari tumbuh-tumbuhan. Maksudnya, kelangsungan hidup kita ini tergantung dari tumbuh-tumbuhan. Adalah sangat menakjubkan sekali bahwa ayat ini sebenarnya menerangkan hakekat ilmiah dan bersesuaian dengan apa yang diterangkan dalam sebuah buku ilmiah menjadi ‘air adalah benda alam yang luar biasa’. Para sarjana biologi menetapkan bahwa tumbuh-tumbuhan adalah kebutuhan primer makhluk hidup seperti hewan, termasuk juga manusia. Bahkan semua bakteri pun dapat hidup dengan memakan tumbuh-tumbuhan atau sari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Seperti kita makan ikan umpamanya, sebenarnya kita memakan tumbuh-tumbuhan. Kenapa demikian, karena ikan-ikan besar hidup dengan memakan ikan-ikan kecil atau hewan-hewan kecil lain, demikian seterusnya. Akhirnya jika kita teruskan siklus ini akan sampai kepada tumbuhan sebagai akhirnya. Maka tumbuh-tumbuhan adalah asas kehidupan yang paling tua, setua jenis manusia itu sendiri. Demikianlah keterangan yang dapat kita peroleh dari al-Qur’an dan ilmu pengetahuan yang menerangkan tentang makanan manusia dan unsur-unsur lain yang hidup dari makanan itu.

Keserasian Hubungan Antar Golongan

Pada zaman Nabi Nuh, menurut keterangan al-Qur’an terdapat dua golongan manusia. Mereka terbagi dalam kelompok orang kaya dan terhormat, yakni borjuis dan kapitalis, serta kelompok kaum buruh dan fakir yang disebut kelompok proletar. Al-Qur’an menggambarkan dalam kisah Nuh, bahwa kaum buruh dan fakir menerima dakwahnya karena kelompok ini mengakui dan menegakkan keadilan, persamaan dan kasih sayang di kalangan mereka tidak pandang antara si kaya dan si miskin. Akan tetapi, kelompok orang kaya dan bangsawan menolak dakwah Nabi Nuh, disertai ejekan.

Ejekan yang diucapkan sesuai dengan jalan pikiran mereka yang diliputi kesombongan dan keangkuhan. Tampak perkataan mereka yang ditujukan kepada orang-orang fakir sebagai berikut, "…dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta."
Qs. 11 : 27

Mereka merasa lebih mulia dan tidak layak bersama orang yang lebih rendah derajatnya dalam satu ikatan kerja sama (perserikatan). Lebih jelas lagi, kelompok bangsawan berjanji kepada Nuh akan menerima ajarannya jika Nuh bersedia mengusir semua kaum fakir dan buruh dari majlisnya. Tetapi Nuh menolak syarat yang mereka ajukan dan berkata kepada mereka, ".…dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui. Dan (dia berkata), ‘Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (adzab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidaklah kamu mengambil pelajaran’."
Qs. 11 : 29-30

Kemudian Nuh melanjutkan perkataannya menyangkal tuduhan mereka, ".…dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu. Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada mereka…"
Qs. 11 : 31

Al-Qur’an sejak empat belas abad yang lalu telah menghapus adanya kasta dalam masyarakat dengan suatu ayat yang menerangkan bahwa semua manusia adalah sama. Dalam kisah Nuh ini, Allah hendak menjelaskan bahwa antara hartawan dan bangsawan dengan lainnya tidak ada kelebihan sama sekali. Dan masyarakat yang dikehendaki Allah adalah masyarakat yang sederajat dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Masalah yang membedakan adalah ilmu dan ketakwaan. Dalam al-Qur’an diterangkan, "….sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu."
Qs. 49 : 13

Seandainya orang-orang kaya mendengar dan memperhatikan kebenaran, niscaya tidak akan terjadi bentrokan antar kelompok. Allah berfirman, "Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
Qs. 39 : 9

Pelajaran tentang Tekad yang Kuat

Di antara sifat yang harus dimiliki oleh manusia adalah tekad kuat, yang dengan tekad kuat itu bisa mengalahkan kesulitan dan keruwetan. Nabi Nuh sebagai contoh yang layak diteladani kekuatan tekadnya. Ia berdakwah kepada kaumnya secara terus menerus dalam jangka waktu yang panjang tanpa tergoyangkan kemauan dan aqidahnya. Di antara gambaran yang lebih jelas sebagaimana diterangkan oleh al-Qur’an adalah kontinuitas Nuh dalam berdakwah kepada kaumnya. Ia tak kenal siang maupun malam, baik sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, dan kaumnya mengacuhkan dakwahnya sama sekali. Bahkan mereka tidak mau mendengar atau menyaksikan dakwah Nuh. Inilah puncak dari keingkaran mereka terhadap dakwah Nuh, dan siksaan bagi perasaannya. Coba saja sampai-sampai mereka membayangkan menuduh Nuh seorang gila, "Ia tidak lain hanyalah laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu."
Qs. 23 : 25

Jika kita langkahkan penyelidikan lebih jauh, maka tampak lebih jelas kekuatan tekad Nabi Nuh ketika menghadapi ancaman secara berani, tak gentar meneruskan dakwahnya, "Mereka berkata, ‘Sesungguhnya jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang yang dirajam.’"
Qs. 26 : 116

Akan tetapi, Nuh tidak gentar menghadapi ancaman itu, bahkan berserah diri pada Tuhannya, "Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku, karena itu adakanlah keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang Mu’min besertaku.’"
Qs. 26 : 117-118

Pada saat yang berbeda, kita juga bisa menyaksikan ketabahan Nuh menghadapi ejekan kaumnya ketika menggalang perahu. "Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya, berkatalah Nuh, ‘Jika kau mengejek kami, maka kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).’"
Qs. 11 : 38

Apa sebenarnya yang mendorong Nuh hingga ia mempunyai kemauan yang membaja itu? Jawabnya tidak lain adalah iman yang kuat terhadap Allah, dan kepasrahannya setiap mendapat kesulitan dan siksaan.

Menghindar dari Keluarga yang Rusak

Hubungan keluarga merupakan faktor penting dalam membina ummat manusia. Oleh karena itu, perlu mendapat perhatian khusus seperti dengan pengorbanan dan kasih sayang naluriah.

Islam memang banyak memberikan perhatian tentang masalah keluarga ini, karena tabiat maslahat manusia tergantung pada baik atau buruknya keluarga. Tetapi, dalam pembinaan keluarga ada syarat asasi yang perlu ditanamkan, yakni iman dan syari’at, sebab keduanya ini sebenarnya yang menjadi pengikat dalam ikatan kekeluargaan. Karenanya, seorang Muslim akan bersaudara berdasarkan iman dan keislamannya, dan membenci seseorang, walaupun dia itu keturunannya, karena kekufurannya.

Al-Qur’an menerangkan, "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan."
Qs. 58 : 22

Dalam kisah Nuh, al-Qur’an memberikan contoh yang hidup bagi kita. Nuh menyayangi anaknya sehingga ia mohon kepada Tuhan agar menyelamatkan putranya itu dari bahaya kehancuran. Tetapi Allah tidak memperkenankan permohonannya dan mengatakan bahwa perbuatan Nuh (memohon keselamatan putranya) sebagai kebodohan yang tidak semestinya ada pada diri Nuh.

"Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.’ Allah berfirman, ‘Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah keluargamu (yang dijanjikan akan keselamatan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu, supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak mengetahui.’ Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dan memohon kepada Engkau dari sesuatu yang aku tiada megetahui (hakekatnya). Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasih kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi."
Qs. 11 : 45-47

Berdasarkan ayat tersebut, kiranya jelas bahwa yang menjadi sasaran al-Qur’an tidak hanya sekedar hubungan keluarga. Tetapi amal salehnyalah yang menjadikan ia mendapat kebahagiaan di akhirat. Hubungan keluarga sama sekali tidak bisa memberi pertolongan dari adzab Allah kalau ia orang yang durhaka. Al-Qur’an menegaskan lebih lanjut, "Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya), masuklah ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk neraka."
Qs. 66 : 10

Sebab, kehancuran istri Nuh dan Luth adalah penyelewengan mereka dari jalan yang benar. Ini merupakan contoh yang jelas dari al-Qur’an bahwa kerabat, walaupun dia orang yang saleh, sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kerabat yang durhaka.

Banyak sekali orang yang tersesat dalam memahami jalan keselamatan, bisa diperoleh dengan mengkultuskan tokoh-tokoh agama tanpa memperhatikan apakah dirinya sudah berbuat baik atau tidak. Paham yang demikian menyebabkan keterbelakangan, kejumudan dan kehancuran. Lain hal dengan orang yang mengerti bagaimana seharusnya menghormati tokoh agama yang dibenarkan dan dikehendaki oleh agamanya, tidak hanya sekedar mengkultuskan tanpa adanya usaha memperbaiki keadaan dirinya.