Ajaran dan Keteladanan Nabi Adam
(diambil dari ‘Koleksi Nabi-nabi dalam al-Qur’an’ oleh Dr.Afif Abdullah)

Kemuliaan Manusia

Di antara celaan yang biasa dilontarkan kepada Islam, bahwa Islam dianggap tidak memuliakan dan mengangkat derajat manusia. Demikian keterangan dari kitab yang berjudul Hadharatu ‘l-Islam (karya seorang Orientalis bernama al-Nimsawy).

Penulis buku tersebut menerangkan, Islam, sejak awal kelahirannya tidak mengakui harkat kemuliaan manusia melainkan sangat sedikit. Bahkan al-Qur’an sendiri merenggutnya dengan suatu keterangan yang menjelaskan tentang asal kejadian jasmaniahnya.

Para pengamat yang jeli dalam menanggapi pernyataan tersebut, segera mengetahui bahwa kisah Adam yang diungkapkan oleh al-Qur’an sejak awal hingga akhirnya merupakan tangkisan terhadapnya. Karenanya, yang benar ialah, bahwa al-Qur’an justru mengangkat derajat dan kemampuan manusia lebih tinggi dari pada anggapan filsafat, agama, dan aliran sosial mana pun.

Adapun tuduhan bahwa al-Qur’an merenggut derajat dan menghina manusia dengan mengungkapkan asal kejadian jasmaniahnya, bagi para pengkaji al-Qur’an, hal tersebut merupakan ungkapan peringatan bagi manusia tentang kehinaan dan kelemahannya. Sedangkan asal kejadiannya, menurut pandangan mereka adalah dari lumpur atau tanah liat atau nuthfah (sel mani). Dan pendapat ini diakui secara alamiah. Di samping itu, ungkapan al-Qur’an tentang asal kejadian manusia dimaksudkan sebagai pengendali keliaran tipu dayanya sehinga ia tidak melampaui batas, mengkufuri penciptanya, berbuat zhalim dan takabur terhadap sesamanya.

Dalam kisah Adam dijelaskan kepada kita bahwa Allah menciptakan manusia dimaksudkan untuk menjadi khalifah di bumi, bertugas mengelola dan memanfaatkan kemakmurannya. "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’"
Qs. al-Baqarah : 30
Selanjutnya Allah berfirman: "Dialah yang menjadikan segala yang ada di bumi."
Qs. al-Baqarah : 29

Dan Allah telah menyediakan segala sarana yang memungkinkan manusia bisa merealisasikan tugas kekhalifahannya, dengan mengajar seluruh nama benda. "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya…"
Qs. al-Baqarah : 31

Maksudnya, Allah mengajar Adam sehingga memahami dan mengerti nama-nama benda, ilmu pengetahuan dan segala sarana yang dapat digunakan untuk merealisasikan tugasnya. Kemudian kita bisa melihat bentuk kedua pemuliaan Adam, yakni perintah Allah kepada seluruh malaikat untuk bersujud kepadanya, sebagai penghormatan atas kemuliaan, bukan sujud dalam artian ibadah. "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
Qs. 15 : 29

Apabila kita sebut kemuliaan Adam, berarti mencakup kemuliaan seluruh keturunannya, sesuai dengan penjelasan al-Qur’an sebagai berikut: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan."
Qs. 17 : 30

Ayat ini menunjukkan kemuliaan semua jenis manusia, tidak pandang warna kulit, bangsa (aria maupun samia), jenis kelamin, yang kuat atau yang lemah karena Allah menyebutnya dengan Bani Adam.

Perhatikan dengan seksama kandungan ayat ini: "Kami angkut mereka di daratan dan lautan." Ini merupakan gambarannya. Hamparkan untuknya segala isi daratan dan lautan. Pada zaman dahulu hewan-hewan dan sampan-sampan merupakan alat transportasi. Sekarang, kita dipahami bahwa sarana transportasi semakin modern, berdasarkan pengetahuan yang dilimpahkan Allah sejak mula-mula penciptaan manusia. Sehingga pada saatnya, manusia dapat menciptakan pesawat terbang, kereta api, mobil, dan kapal-kapal laut yang serba modern.

Perhatikan juga ayat berikut ini: "Kami beri mereka dengan rezki dari yang baik-baik." Ini juga merupakan gambaran nyata tentang kemuliaan manusia dalam masalah makanan dan minuman. Dan firman-Nya yang berarti: "Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan," merupakan keterangan tentang keadaan manusia yang mempunyai kelebihan atas semua makhluk.

Demikian kenyataan, sehingga logis jika manusia sadar dan merasa bahwa dirinya khalifah di bumi ini. Sujudnya malaikat kepadanya (memberi penghormatan) itu menunjukkan bahwa manusia berhak dimuliakan dan mempunyai kelebihan atas semua makhluk ciptaan Allah. Itu semua adalah merupakan celah-celah penting bagi manusia untuk mencapai peningkatan derajat secara maknawi melalui sarana peradaban.

Sesudah dijelaskan secara panjang lebar tentang kemuliaan manusia, sekarang cobalah jelaskan alasan yang mendukung pendapat para filosof modern yang berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang hina dina. Dikatakan, bahwa manusia tidak lebih dari binatang kecil atau ulat menjijikkan yang hidup di tempat-tempat kotor, seperti kata Chartres, atau tidak lebih dari seekor kera yang diciptakan Allah melalui proses evolusi yang menjelma seorang manusia, seperti yang dikatakan Nietzche.

Ini semua adalah pandangan-pandangan tidak sehat dan lemah yang dapat membunuh cita-cita manusia, membuat manusia frustasi dan pesimis. Padahal pandangan al-Qur’an selalu menumbuhkan optimisme, rasa harga diri dan terhormat.

Akibat Kesombongan

Dari kisah Adam, kita bisa mengambil pelajaran agar menjauhkan diri dari sifat sombong, setelah Allah menjelaskan akibatnya. Ketika Iblis berlaku sombong tidak mau menurut perintah Allah, maka ia ditimpa kehinaan dan diusir dari surga secara tak terhormat. Firman Allah menyatakan, "Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina."
Qs. al-A’raaf : 13

Senada dengan makna ayat ini Rasul saw bersabda: "Barang siapa tunduk kepada aturan Allah, niscaya Allah naikkan (derajatnya), dan barang siapa sombong, Allah akan menghinakannya." Rasulullah saw menjelaskan pengertian sebagai berikut: "Kesombongan itu penghalang (pelaksanaan kebenaran) dan pembantai (kemuliaan) manusia."

Maka, pengertian al-Kibru berdasarkan hadits tersebut ialah sifat egois atau individualis. Orang-orang yang bersifat demikian menghendaki seolah-olah dirinya ‘tuhan’ di dunia ini. Ia tidak mau tunduk kepada kebenaran atau menerima kritik membangun dari orang lain. Karena mereka berpendirian tidak akan mengikuti orang lain, ia bertindak sewenang-wenang dan kejam terhadap orang yang di bawah kekuasaannya.

Menurut al-Qur’an, akibat kesombongan adalah kepedihan, karena mendapat murka Allah. "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong."
Qs. 16 : 23

Orang yang sombong wajib mendapat hukuman pedih dan diseret dari kelompok orang-orang Mu’min kemudian dijebloskan ke dalam kelompok orang-orang terkutuk. Oleh karena itu, Allah berfirman, "Keluarlah dari surga, sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat."
Qs. 15 : 34-35

Demikian akibat dari kesombongan, karena sesungguhnya kesombongan itu mengakibatkan lemahnya akal. Imam Ja’far as-Shadiq memberikan gambaran yang sangat jitu dalam masalah ini dengan perkataannya, "Kesombongan yang masuk ke dalam hati seseorang, akan keluar dari akalnya sesuai dengan kesombongan yang memasukinya."

Dakwah sebagai Pembinaan RuhaniDari kisah Adam, terdapat nilai dakwah kepada manusia untuk membina masalah ruhaniah, mengurangi dan mengekang tingkah buruk yang ada pada diri Adam. "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk."
Qs. 15 : 28

Menurut ketentuan al-Qur’an manusia adalah makhluk yang diciptakan dari materi (yang disebut tanah liat). Sedangkan ilmu pengetahuan sendiri menentukan bahwa tubuh manusia itu terbentuk dari unsur-unsur yang ada pada tanah. Penciptaan manusia dari materi itu, menimbulkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan logis antara lain, manusia mempunyai kecenderungan untuk terpenuhinya kebutuhan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, kekayaan, kehormatan dan mengembangkan keturunan. Di samping itu, manusia menurut tabiat materialnya mempunyai kecenderungan menghina, memukul, membunuh, memberontak, balas dendam, menguasai dan takabur.

Manusia, di samping makhluk yang diciptakan dari unsur material, juga ditiupkan ruh di dalamnya oleh Allah swt. "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) ruh (ciptaan)Nya."
Qs. 32 : 9

Peniupan ruh ke dalam tubuh manusia merupakan rahasia Allah dan ditempatkannya ruh dalam tubuh manusia dimaksudkan agar bisa mengendalikan diri ke arah iman kepada Tuhan penciptanya, bersyukur, berserah diri, mengajaknya untuk iradah Allah dalam kehidupan ini dan menegakkan etika hidup berupa keadilan, kejujuran, kesantunan, cinta kebenaran dan kebaikan. Oleh sebab itu Allah mensifati hamba beriman sebagai berikut: "…Mereka itu orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya…."
Qs. 58 : 22

Yang dimaksud ruh bukanlah sekedar nyawa yang bisa mengakibatkan adanya kehidupan. Sebab jika diartikan demikian maka kehidupan manusia disamakan dengan kehidupan binatang. Dan jika manusia disamakan dengan kehidupan binatang, berarti tidak mempunyai kemuliaan atau kehidupan binatang, berarti tidak mempunyai kemuliaan atau ketinggian derajat yang harus dihormati oleh para malaikat sebagaimana diperintahkan Allah itu.

Dalam al-Qur’an tidak diterangkan bahwa maksud penyebutan ruh itu dialirkannya kehidupan hewani dalam tubuh manusia. Menurut pemahaman al-Qur’an, yang disebut manusia meliputi materi, ruh dan fitrah yang terpadu antara manusia iman kepada Allah dan penyerahan diri pada-Nya serta ketinggian akhlaq, dan antara perjalanan ke bumi sampai tertariknya menikmati kenikmatan hewani. Maksudnya, manusia mempunyai kebutuhan hidup jasmaniah seperti halnya hewan, yang dibedakan oleh adanya fitrah tersebut.

Berdasarkan keterangan ini, lebih tampak kontradiksi antara teori al-Qur’an dengan teori Darwin (Yahudi) yang mengatakan bahwa semua teori tentang kejadian manusia tidak ada yang menyebutkan adanya fitrah. Dan penafsiran aliran materialisme yang mengatakan bahwa kecenderungan etika bukan fitrah manusia, akan tetapi tumbuh mengikuti pertumbuhan ekonomi, sosial, dan materi di mana manusia itu berada. Jadi, etika merupakan sesuatu yang datang dari luar dirinya yang dibebankan kepadanya.

Kontradiksi antara al-Qur’an dan materialisme ini tidaklah terlalu aneh lantaran penafsiran-penafsiran hewani tentang manusia itu sendiri. Rupanya, pendapat tersebut banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Darwin yang banyak mempengaruhi aliran-aliran di Eropa pada abad sembilan belas sampai dengan permulaan abad dua puluh. Aliran tersebut pada hakekatnya justru merenggut manusia dari harkat kemanusiannya dan menjebloskannya ke derajat hewani.

Pandangan Ilmu Pengetahuan tentang Materi (Asal Kejadian) Manusia

Al-Qur’an menjelaskan kepada kita tentang materi asal kejadian Adam dan keturunannya. "(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah’."
Qs. 38 : 71

Berdasarkan keterangan ayat ini tanah adalah merupakan asal kejadian manusia. Dan andaikan tanah itu sudah berubah melalui proses sehingga menjadi manusia, sebagaimana telah diketahui bahwa yang dimaksud adalah debu yang bercampur dengan air (lumpur). Allah berfirman, "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk."
Qs. 15 : 26

Yang dimaksud dengan Hamaun Masnun ialah tanah hitam yang sudah berubah baunya. Al-Baidhawy dalam tafsirnya mengatakan, "Yang dimaksud ‘Al-Hamau ‘l-Masnun’ adalah tanah yang berubah kehitaman akibat dilalui aliran air dalam jangka waktu yang panjang."

Al-Qur’an menjelaskan bahwa penciptaan manusia berasal dari tanah dan air. Adapun penciptaan manusia dari tanah itu merupakan sesuatu yang didukung oleh kenyataan dan diakui ilmu pengetahuan. Kalau anda mengambil bagian atau potongan tubuh manusia, kemudian diteliti menurut proses penelitian laboratorium, maka akan anda dapatkan bahwa potongan tubuh manusia tersebut terdiri dari unsur-unsur yang di antaranya adalah debu atau tanah. Oleh karena itu, jika manusia mati, maka tubuhnya akan melebur menjadi tanah.

Adapun masalah air, para sarjana biologi berkeyakinan bahwa awal kehidupan dimulai pada air yang manis, walaupun segolongan kecil dari mereka menentang pendapat ini. Memang, kehidupan tidak hanya dimulai pada air saja, tetapi walaupun tidak secara detail ilmiah, bisa kita katakan bahwa kehidupan itu tidak bisa sama sekali meninggalkan unsur air. Sebab, semua bentuk kehidupan bisa berlangsung berkat adanya protoplasma dan persenyawaan semangat hidup di dalamnya. Para ahli ilmu tumbuh-tumbuhan memberikan pengertian bahwa protoplasma adalah asas bagi kehidupan. Jadi, kehidupan dan air dalam pertumbuhannya adalah persenyawaan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Maka benarlah firman Allah, "….Dan dari pada air, Kami jadikan sesuatu yang hidup….
Qs. 21 : 30

Ajaran Menjauhi Keburukan

Dalam kisah ini al-Qur’an menceritakan tentang permusuhan Iblis terhadap Adam. Syaithan membujuknya dan melakukan tipudaya agar Adam mau makan buah dari sebatang pohon yang dilarang Allah mendekatinya. Adam terperdaya dengan bujuk rayu syaithan dan hingga akhirnya melanggar larangan Allah dan mengakibatkan dikeluarkan dari surga sebagai imbalan atas kemaksiatannya. Permusuhan Iblis tidak hanya berhenti sampai Adam, bahkan berlanjut sampai kepada keturunannya hingga Hari Kiamat nanti. Allah berfirman, "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga."
Qs. al-A’raaf : 27

Sudah kita terangkan di atas bahwa Allah meniupkan ruh kepada Adam, dan seluruh manusia adalah keturunannya. Karenanya tipu daya syaithan yang senantiasa menjauhkan manusia dari sifat yang terpuji atau menjerumuskan ke jurang keburukan. Dari sebab ini timbul pertentangan antara kebaikan dan keburukan pada diri manusia yang merupakan cobaan dan ujian. Apabila manusia berjihad melawan hawa nafsu dan menang, maka dia akan mendapatkan keberuntungan berupa nikmat dan ridha Allah. Dan sebaliknya, jika ia bisa dikuasai hawa nafsunya, menuruti tipu daya syaithan yang menjerumuskan ke dalam jurang kebathilan itu, akibatnya ia menjadi orang yang merugi.

Dalam pembahasan ini lebih baik kiranya jika kita bicarakan tentang syaithan, gangguannya dan pengaruhnya terhadap manusia agar para pembaca menjauhi dan berjihad melawan nafsunya, sehingga mampu mencapai ketinggian ruhaniah untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya.

Tabiat Iblis dan syaithan: Iblis adalah nenek moyang syaithan. Iblis dan keturunannya adalah jin yang maksiat (durhaka). ".…(Sujudlah mereka) kecuali Iblis. Dia adalah golongan Jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya."
Qs. 18 : 50

Jin adalah satu jenis makhluk halus (ruh) yang berakal dan berkemauan. Mereka adalah mukallafunseperti manusia. Hanya saja, mereka tidak hidup di alam nyata seperti manusia. Mereka tidak bisa dijangkau oleh panca indra. Tabiat dan bentuknya tidak bisa dilihat hakekatnya. Allah berfirman, "Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka."
Qs. al-A’raaf : 27

Dan jin itu diciptakan dari api. "Dan Kami telah menciptakan Jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas."
Qs. 15 : 27
Dan Iblis berkata kepada Tuhannya: "Engkau ciptakan aku dari api."
Qs. al-A’raaf : 12

Jin itu menjadi beberapa golongan, di antara mereka ada yang berbuat kebaikan dan ada pula yang sesat dan membuat kerusakan. "Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada pula yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda."
Qs. 72 : 11

Syaithan adalah musuh manusia: Iblis dan sekutunya, yakni syaithan adalah musuh-musuh manusia yang senantiasa menanamkan ajakan-ajakan buruk dan bathil ke dalam diri manusia. "….Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui."
Qs. al-Baqarah : 168-169

Allah telah membebaskan syaithan untuk menggoda manusia. Syaithan itu selalu menghiasi manusia dengan keburukan dan memperdayakannya dengan kemungkaran, baik manusia itu sebagai Nabi atau lainnya. Allah berfirman, "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia."
Qs. al-An’am : 112

Diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa ia bersabda, "Tak seorangpun di antara kamu yang tidak digoda oleh golongan Jin yang senantiasa menyertaimu. Para sahabat bertanya, ‘Adapun engkau bagaimana hai Rasul?’ Beliau menjawab, ‘Saya pun demikian pula, hanya Allah selalu melindungiku sehingga aku terbebas, Allah tidak menyuruhku kecuali yang baik."
HR. Muslim

Syaithan adalah sumber kejahatan dalam wujudnya, di samping sebagai pengajak kejahatan dan kerusakan di bumi. Karenanya syaithan adalah pengisi setiap orang yang berjiwa kosong dan menyelewengkannya kepada kecenderungan nafsu seksual, menjatuhkan martabat, menanamkan sifat memperbudak dan kecenderungan melakukan kerusakan. Dia jugalah yang melontarkan permusuhan dan kemarahan di antara manusia, antara seseorang dengan saudaranya, antara suami dan istri, antara golongan ummat dengan jama’ahnya. Allah berfirman, "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang telah baik (benar). Sesungguhnya syaithan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka."
Qs. 17 : 5

Syaithan tidak kuasa menggoda orang Mu’min

Hati adalah nur (cahaya), jika jiwa itu telah matang. Dan menerangi hati dapat menghapus dan melenyapkan godaan-godaan syaithan. Allah berfirman, "Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk. Sesungguhnya syaithan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya."
Qs. 16 : 98-99
"….Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman."
Qs. al-a’raaf : 27

Tidak ada senjata yang paling ampuh untuk mengusir syaithan selain mengingat Allah dan berhati-hati dalam bertindak, baik di tengah-tengah orang lain maupun sendirian karena ketakutannya kepada Allah. Dzikir kepada Allah itu dapat menjernihkan hati dan menanamkan rasa cinta terhadap kebenaran dan berbuat kebaikan. Di samping itu dapat melemahkan kecenderungan ke arah kebathilan dan keburukan, sehingga syaithan tidak menemukan jalan untuk memasukinya. "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaithan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya."
Qs. al-A’raaf : 201

Artinya, sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila digoda syaithan untuk berbuat maksiat, mereka sadar bahwa syaithan itu musuhnya. Ingat akan siksa Allah bagi orang yang mengikuti syaithan, dan banyaknya pahala Allah bagi orang yang taat kepada-Nya, mereka itulah yang bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara haq dan bathil. Karenanya mereka menjauhi syaithan dan godaannya.

Perlu dicatat, bahwa syaithan tidak akan mengganggu manusia kecuali jika manusia tidak berdzikir kepada Allah. Dalam hal ini, Allah berfirman, "Barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya syaithan (yang menyesatkan) maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya."
Qs. 43 : 36

Maksudnya, sesungguhnya orang yang lalai berdzikir kepada Allah memudahkan syaithan untuk mendekatinya. Sebaliknya, orang yang selalu ingat (dzikir) kepada Allah maka syaithan akan menjauhinya. Ringkasnya, di alam ghaib ada makhluk halus yang bernama syaithan. Panca indra kita tidak dapat mengetahuinya walaupun dapat berhubungan dan mempengaruhi jiwa kita ke arah kejahatan yang diistilahkan oleh Allah dalam al-Qur’an dengan kata-kata was-wasan, nazghan dan massan. Kita merasakan adanya pengaruh ini namun tidak tahu dari mana sumber datangnya pengaruh itu. Pengaruh syaithan pada ruh (jiwa) itu tak ubahnya seperti bakteri dalam tubuh. Bakteri cepat sekali memasuki bagian-bagian tubuh yang lemah dan menyerangnya. Untuk menaggulangi serangan bakteri itu harus dilakukan terapi medis tertentu. Demikian halnya dengan menaggulangi pengaruhnya dengan memperkokoh kekuatan ruhani. Maksudnya, ruhani diisi dengan iman, ketakwaan, munajat dan keikhlasan beribadah kepada-Nya, serta meninggalkan segala bentuk keburukan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, sehingga kebaikan, benci terhadap kebathilan bisa tertanam dalam jiwa. Dengan kondisi ruhaniah demikian, tentunya akan bisa mengatasi pengaruh-pengaruh syaithan berupa kejahatan dan kebathilan.

Taubat dapat mengusir syaithan, dengan taubat yang sebenar-benarnya maka kebaikan akan dapat mengalahkan keburukan. Dan pada saat kebaikan dapat mengalahkan keburukan itu, berarti syaithan mundur teratur tunduk kepada manusia yang mendapat petunjuk Allah. Karenanya, jika kita tergelincir ke dalam kemaksiatan, ingatlah teladan yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita, Adam, yang melakukan taubat dan berusaha mengisi kehidupan dengan kesucian dan keutamaan. Dengan demikian kita akan terbebas dari cengkeraman pengaruh dan godaan syaithan.

"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaithan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pendengar lagi Maha Mengetahui."
Qs. al-A’raaf : 200

Next : Kisah Qabil & Habil